1. BERKUDA
Berkuda bukan merupakan olahraga yang mudah.Olahraga ini unik, karena melibatkan  2 spesies yang berbeda, dimana hewan (equiin) menjadi objek atau alat olahraga. Secara teknis olahraga ini melatih seseorang untuk mampu melakukan proses komunikasi antarspesies dengan kendala adanya perbedaan simbol komunikasi dan kemampuan saling memahami. Berkuda
Olahraga berkuda merupakan aktivitas yang mengedepankan komunikasi lintas spesies. Hikmah yang dapat kita petik adalah kemauan dan kemampuan untuk membina komunikasi/ silaturrahim yang tulus dan bebas dari kepentingan diantara sesame kita ( makhluk ciptaan Allah). Olahraga berkuda memerlukan suatu kemampuan koordinatif yang luar biasa, terutama untuk mempertahankan seimbangan.
Dalam olahraga ini dikenal cabang equestrian, tunggang serasi, maupun pacuan kuda, dimana ke tiga cabang tersebut dapat diterjemahka secara kontekstual sebagai ketepatan dalam dinamika yang harmonis, keserasian dalam saling pengertian dan kecepatan. Dengan demikian dalam olahraga  secara keseluruhan dari proses awal sampai akhir, seorang manusia dapat mengambil hikmah dan nilai sebagai berikut :
-          Kemauan untuk mengenal dan memahami sesame makhluk ciptaan Allah, meskipun makhluk itu seekor hewan, inilah kunci silaturrahim global (menyeluruh), mau mengenal dan memahami dengan segala konsekuensinya. Olahraga berkuda akan membantu memupuk keinginan dalam jiwa kita untuk bersilaturrahim tanpa embel- embel sifat manipulatif dan cari- cari kesempatan. Belajarlah memandang pihak lain bukan sebagai objek manipulatif  yang berhubungan dengannya akan selalu member keuntungan bagi kita.
-          Koordinasi, manusia dibekali dengan berbagai potensi yang luar biasa akan tetapi sering kali gagal mencapai hasil yang optimal karena kurangnya sinergi. Dalam olahraga berkuda koordinasi yang baik antara manusia dan kudanya akan menghasilkan suatu energy keserasian, keakuratan gerak, ketepatan momen (equestrian/ haling rintang), dan kecepatan yang optimal.  Hal yang mendasar yang menjiwai kordinasi adalah pengertian/ pemahaman , analisis, perencanaan, ketenangan, konsistensi ( istiqomah) dalam melaksanakan. Faktor terakhir baru dapat terjadi bila itu semua dilandasi hati yang bersih dan bebas dari motif manipulatif atau motif keuntungan egosentrisme. Keuntungan bukanlah hal yang tabu asalkan bersifat ‘dalam’ atau keuntungan bagi kita juga berarti keuntungan bagi semua pihak.
-          Pasangan kita (bagi yang sudah menyempurnakan separuh dien) mereka diumpamakan sebagai ‘kuda’ pertama yang harus kita pahami, kenali dan berbagi ego serta motif manipulatif, berkoordinasilah dengan nya untuk mensinergikan potensi- potensi  keluarga.
Pada peristiwa sakral ini diperlukan kemampuan koordinatif untuk dapat saling memahami aspirasi dan keinginan, serta sangat diperlukan kesabaran dan ketenangan untuk mengekang motif manipulatif, diperlukan pula sikap istiqomah untuk mempertahankan pola komunikasi yang setara dimana kebahagiaan dan kesenangan adalah karunia Allah milik bersama, dan lakukanlah proses ini berdasarkan cinta kasih sayang karena cinta yang tulus adalah sensasi rasa ingin memberi tanpa berharap kembali.
Cinta inilah cinta sejati yang sesungguhnya , bias kita pupuk dan kita sirami , dan kita jaga maka cinta ini akan tumbuh sebagai cinta Illahi , yang akhirnya akan bertunas di lading hati yang bening . Betapa selama ini cinta itu terus tercurah kepada kita dan semesta sekalian alam, tanpa kita sadari, cinta itu cinta tulus yang tak berharap kembali.
-          Latihan berkuda akan membuat kita memahami konsep pengenalan, pemahaman, dan kemampuan menahan diri dari motif egosentrisme yang manipulatif tak berguna. Dan membuat kita mulai belajar mencintai siapapun. Mencintai tanpa pamrih, bukan mencintai karena, tetapi mencintai walaupun. Itulah konsep Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul- Nya dalam mencintai umat manusia.
2. MEMANAH
Olah raga ini merupakan olahraga yang melatih dan mempertajam akurasi kita. Tenaga yang digunakan akan termanifestasi dalam bentuk akurasi, kecepatan tindakan, dan koordinasi. Esensi dasar dari olahraga ini adalah nyaris serupa, altius, citius, forties.Untuk membidik sasaran dengan tepat diperlukan kejelian dalam menyaring informasi berupa jenis, jarak dan ukuran sasaran. Ditambah lagi tambahan informasi berupa arah angin, sudut sasaran, jenis tali busur, berat anak panah, kondisi bulu di hulu anak panah, dan sebagainya. Nilai yang terkandung dalam filosofi olahraga ini adalah kemampuan kita untuk mengakses informasi seluas- luasnya serta menapisnya menjadi informasi yang benar- benar esensial ( dibutuhkan), karena tidak semua informasinya berharga.
Penguasaan informasi terait erat dengan fungsi diseminatif seorang muslim, bila diawal pembicaraan seorang Muslim haruslah bertindak sebagai agent of Changing,maka penguasaan informasi adalah kunci ketepatan perubahan, sebagaimana ketepatan bidikan anak panah. Penguasaan informasi tidak berarti sekedar menguasai akses terhadap informasi melainkan pula berimplikasi kepada kemampuan untuk menyampaikan informasi.
Dalam kehidupan keseharian olahraga memanah dapat dipraktekan secara kontekstual dengan berlatih menyaring informasi, mengolah, menyusun rencana pencapaian sasaran, dan melaksanakan rencana dengan sabar, kreatif dan konsisten. Menerima curhat Istri/ suami, meramu info baru tersebut dengan Knowledge based yang mungkin juga diperkaya dengan merujuk kepada Al- Quran dan Hadits, bertanya kepada orang yang lebih pandai, membaca litelatur , melanjutkan dengan merencanakan langkah yang akan diambil setelah tergambar sasaran, focus pada masalah, dan laksanakan peluncuran  solusi dengan konsisten , terkoordinasi, dan dengan tenaga yang terukur.
3. BERENANG
Olahraga ini adalah suatu jenis olahraga yang sangat unik karena menempatkan manusia dalam suatu medium  yang tidak kondusif dengan sifat biologisnya. Kita semua tahu bahwa manusia tidak akan mampu bertahan hidup bila terbenam dalam air lebih dari waktu yang dapat ditoleransi.
Berenang secara filosofis boleh dikatakan sebagai latihan bagi manusia untuk mengatasi titik  kritikalnya. Kemampuan manusia untuk bertahan hidup dengan mengoptimasi kemampuan koordinatifnya terhadap organ dan anggota gerak telah menempatkan proses renang sebagai ekstase kemenangan manusia terhadap rasa takutnya , atau secara khusus rasa takut matinya.
Ekstase kemenangan itu menghasilkan kenikmatan yang sensasional, manusia berdiri diambang batas kesadarannya bahwa kemampuan mengoordinasi serta menyinergikan potensinya ternyata mampu membuatnya bertahan hidup dan memberinya suatu kesenangan. Renang melatih manusia untuk berani beradaptasi dengan suatu dunia yang baru, lingkungan yang secara teoritis dapat membahayakan.
Secara kontekstual proses renang mengajari manusia bahwa kemampuan sinergisasi potensinya serta kemampuan koordinatifnya mampu menyelamatkan kepentingan hidupnya. Kondisi ini membuat manusia akan lebih tabah dan siap untuk memasuki ‘lingkungan- lingkungan’ asing yang tidak dikenalnya dalam siklus kehidupan.
Bayi yang nyaman berenang di dalam cairan amnion sesungguhnya telah berlatih dalam keadaan ekstrem untuk memenuhi fungis vitalnya melalui tali plasenta yang sebenarnya merupakan alat alternatif (tidak menggunakan paru dan jantung), ketika lahir ia memasuki ‘lingkungan asing’ yang kaya akan oksigen dan milyaran mikroba, tapi ia menikmatinya dengan seruan kemenangan tangisan yang kita sambut bersama dengan “Alhamdulillah”.
Dalam siklus hidupnya ia akan terus memasuki ‘lingkungan asing’ demi ‘lingkungan asing’. Masuk sekolah, menikah, masuk tempat kerja, masuk rumah sakit, bahkan ada yang masuk rumah jompo, dan pada akhirnya segala latihan berat tersebut pada tujuan akhirnya adalah menyiapkan kita memasuki dunia yang  benar- benar ‘asing’ yaitu kematian. Renang melatih kita untuk mampu beradaptasi dengan keadaan sesulit apapun yang harus kita hadapi, bahkan renang mengajari kita untuk menikmatinya.
Dengan kata lain, orang yang menghayati renang sebagai suatu latihan adaptasi, tidak akan berputus asa sekalipun ia terjebak pada ‘lingkungan’ yang secara implisit akan ‘mematikannya’. Renang mengajari kita untuk bersyukur nikmat atas potensi yang dianugerahkan Allah kepada kita. Atas kemampuan kita untuk mengkoordinasikan anggota gerak dan organ pernafasan, mensyukuri nikmat bahwa suhu air yang dingin justru terasa menyejukkan.
Renang juga mengajari bahwa apapun dan bagaimanapun kondisi kita, kita wajib bersyukur dan menikmatinya, karena meskipun kita berada di tempat yang tidak sesuai dengan karakteristik ternyata dapat dinikmati juga. Renang juga mengajari kita untuk tahu batas dan tidak berlebih, dengan kata lain renang mengajari kita untuk mengukur kemampuan diri.
Yang jelas renang mengajarkan kepada kita bahwa beradaptasi dengan lingkungan baru ( termasuk dunia kematian ) bukanlah hal yang mengerikan asalkan sudah melakukan persiapan yang memadai, sebagai berikut :
  1. Mengetahui secara garis besar kondisi yang akan dihadapi (suhu air, kedalaman air, salinitas air terkait dengan berat jenis, jenis hewan air, bahaya- bahayanya) jadi sekali lagi informasi adalah modal utama dalam merencanakan suatu tindakan.
Dalam kaitan dengan kematian maka informasi itu adalah apa yang akan terjadi di alam barzakh, apa yang akan dihisab, bekal apa yang perlu dipersiapkan manusia? Dengan demikian kematian bagi kita bukanlah hal yang mengerikan bila persiapan dan bekal sudah mencukupi.
Dalam konsep renang seorang perenang yang tidak pernah mempelajari teknik renang, tidak dilengkapi pelampung, dan berniat berenang di laut yang ramai akan ikan hiu sudah jelas nasibnya.
  1. Mempersiapkan penalaran rasional berupa teori dan aplikasi teknik renang yang dipadukan dengan hasil latihan berupa kemampuan koordinatif anggota gerak dan organ pernafasan. Hal tersebut menunjukkan bahwa untuk memasuki suatu lingkungan baru manusia haruslah sepenuhnya mengerahkan segala daya upaya untuk mempersiapkannya.
  2. Tidak semua dari kita mungkin berkesempatan  untuk mempelajari renang secara eksplisit. Akan tetapi bila kita berangkat dari esensi nilai maka latihan renang dapat kita lakukan setiap hari. Saat kita beranjak dari tidur yang lelap untuk memasuki ‘lingkungan asing’ baru dengan suhu udara yang menusuk tulang dan kehangatan selimut yang membelai- belai kulit ari, kita harus sigap mengolah informasi dasar di sel neuron untuk menjalankan program sholat shubuh.
Wallahu a’lamu Bish-Shawab